Selasa, 12 Juni 2012

Anatomi Fisiologi Darah


A. Pengertian Darah
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato- yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah. Darah memiliki warna merah yang berasal dari kandungan oksigen dan karbon dioksida di dalamnya. Adanya oksigen dalam darah diambil dengan jalan bernafas, dan zat ini sangat berguna pada peristiwa pembakaran/metabolisme di dalam tubuh. Viskositas/kekentalan darah lebih kental daripada air yang mempunyai BJ 1,041-1,067, temperature 38°C, dan pH 7,37-7,45.
Darah manusia adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah.

B. Fungsi Darah
Fungsi Darah Pada Tubuh Manusia :
1. Alat pengangkut air dan menyebarkannya ke seluruh tubuh
2. Alat pengangkut oksigen dan menyebarkannya ke seluruh tubuh
3. Alat pengangkut sari makanan dan menyebarkannya ke seluruh tubuh
4. Alat pengangkut hasil oksidasi untuk dibuang melalui alat ekskresi
5. Alat pengangkut getah hormon dari kelenjar buntu
6. Menjaga suhu temperatur tubuh
7. Mencegah infeksi dengan sel darah putih, antibodi dan sel darah beku
8. Mengatur keseimbangan asam basa tubuh, dll

Bagian darah
Air
91%
Protein
3% (albumin, globulin, protombin dan fibrinogen)
Mineral
0,9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam fosfat, magnesium, kalsium dan zat besi)
Bahan Organik
0,1% (glukosa, lemak, asam urat, kreatinin, kolesterol dan asam amino)

C. Macam-macam Sel Darah
Sel Darah Merah (Eritrosit)
Berupa cakram kecil bikonkaf, cekung pada kedua sisinya, sehingga dilihat dari samping namapak seperti dua buah bulan sabit yang saling bertolak belakang. Berdiameter 8 mikron, dan mempunyai ukuran ketebalan sebagai berikut: pada bagian yang paling tebal, tebalnya 2 mikron, sedangkan pada bagian tengah tebalnya 1 mikron atau kurang. Volume rata-rata sel darah merah adalah sebesar 83 mikron kubik. Dalam setiap millimeter kubik darah terdapat 5.000.000 sel darah. Strukturnya terdiri atas pembungkus luar atau stroma, berisi massa hemoglobin.
Sel darah merah memerlukan protein karena strukturnya terbentuk dari asam amino. Mereka juga memerlukan zat besi, sehingga untuk membentuk penggantinya diperlukan diet seimbang yang berisi zat besi.
Pembentukan sel darah merah. Sel darah merah di bentuk di dalam sumsum tulang, terutama dari tulang pendek, pipih dan tak beraturan, dari jaringan kanselus pada ujung tulang pipa dan dari sumsum dalam batang iga-iga dan dari sternum. Di dalam sumsum tulang terdapat banyak sel pluripoten hemopoietik stem yang dapat membentuk berbagai jenis sel darah. Sel-sel ini akan terus menerus direproduksikan selama hidup manusia, walaupun jumlahnya akan semakin berkurang sesuai dengan bertambahnya usia.
            Sel pertama yang akan dapat diketahui termasuk ke dalam rangkaian sel-sel darah merah dapat disebut sebagai proeritroblas. Dengan rangsangan yang sesuai maka dari sel-sel stem ini dapat dibentuk banyak sekali sel-sel. Sekali proeritroblas ini terbentuk, maka ia akan membelah beberapa kali sampai akhirnya akan terbentuk 8 sampai 16 sel-sel darah merah yang matur. Sel-sel baru dari generasi pertama ini disebut sebagai basofil eritroblas sebab  dapat di cat dengan zat warna basa; dan sel-sel ini pada saat ini akan mengumpulkan sedikit sekali hemoglobin. Tetapi pada generasi berikutnya yang disebut sebagai polikromatofil eritroblas akan mulai terbentuk cukup hemoglobin sehingga sel-sel ini mempunyai gambaran polikromatofil. Sesudah terjadi pembelahan lainnya atau selebihnya, maka akan terbentuk lebih banyak lagi hemoglobin dan sel-sel ini lalu disebut sebagai ortokromatik eritroblas dimana warnanya sekarang dapat menjadi merah oleh karena adanya hemoglobin. Akhirnya, bila sitoplasma dari sel-sel ini sudah dipenuhi oleh hemoglobin sehingga mencapai konsentrasi ±34%, maka nukleus akan memadat sampai ukurannya menjadi kecil dan terdorong dari sel. Pada saat yang sama retikulum endoplasma akan mereabsorbsi. Dimana pada tahap ini sel tersebut disebut sebagai retikulosit oleh karena masih mengandung sedikit bahan-bahan basofilik mengandung sisa-sisa Golgi, mitokondria dan sedikit organela sitoplamik yang lain. Pada tahap retikulosit ini sel-sel tersebut akan berjalan masuk ke dalam darah kapiler dengan cara diapedesis (terperas melalui pori-pori membran). Bahan-bahan basofilik yang tesisa di dalam retikulosit tada dalam keadaan normalnya akan menghilang dalam waktu satu sampai dua hari dan sel ini lalu disebut sebagai eritrosit matur. Oleh karena waktu hidup eritrosit ini pendek, maka pada umumnya konsentrasi seluruh sel-sel darah merah dalam darah itu pada keadaan normal jumlahnya kurang dari 1%.
Rata-rata panjang hidup darah merah kira-kira 115 hari. Sel menjadi usang, dan dihancurkan dalam sistema retikulo-endotelia, terutama dalam limpa dan hati. Globin dari hemoglobin dipecah menjadi asam amino untuk digunakan sebagai protein dalm jaringan-jaringan dan zat besi dalam hem dari hemoglobin dikeluarkan untuk digunakan dalam pembentukan sel darah merah lagi. Sisa hem dari hemoglobin diubah menjadi bilirubin (pigmen kuning) dan biliverdin yaitu yang berwarna kehijau-hijauan yang dapat dilihat pada perubahan warna hemoglobin yang rusak pada luka memar.
Konsentrasi sel-sel darah merah di dalam darah, pada pria normal jumlah rata-rata sel-sel darah merah per millimeter kubik adalah 5.200.000 (± 300.000) dan pada wanita normal jumlahnya 4.700.000 (±300.000). Jumlah sel-sel darah merah ini bervariasi pada kedua jenis kelamin dan pada perbedaan umur, pada ketinggian tempat seseorang itu tinggal akan mempengaruhi jumlah sel darah merah.


2.      Sel Darah Putih (Leukosit)
Rupanya bening dan tidak berwarna, bentuknya lebih besar dari sel darah merah, tetapi jumlahnya lebih kecil. Leukosit merupakan unit yang mobil/aktif dari sistem pertahanan tubuh. Sistem perthanan ini sebagian dibentuk di dalam sumsum tulang (granulosit dan monosit dan sedikit limfosit) dan sebagian lagi di salam jaringan limfe (limfosit dan sel-sel plasma), tapi setelah dibentuk sel-sel ini kana diangkut didalam darah menuju ke bermacam-macam bagian tubuh untuk dipergunakan. Granulosit atau sel polimorfonuklear merupakan hampir 75% dari seluruh jumlah sel darah putih. Mereka terbentuk dalam sumsum merah tulang. Sel ini berisi sebuah nukleus yang berbelah banyak dan protoplasmanya berbulir. Karena itu disebut sel berbulir atau granulosit. Kekurangan granulosit disebut granulositopenia. Sedangkan tidak adanya granulosit disebut agranulositosis yang timbul setelah makan obat tertentu, termasuk juga beberapa antibiotika.
Fungsi sel darah putih , granulosit dan monosit mempunyai peranan penting dalam perlindungan badan terhadap mikroorganisme. Dengan kemampuannya sebagai fagosit (fago-saya makan), mereka memakan bakteri-bakteri hidup yang masuk ke peredaran darah. Dengan kekuatan gerakan amuboidnya ia dapat bergerak bebas di dalam dan dapat keluar pembuluh darah dan berjalan mengitari seluruh bagian tubuh. Dengan demikian sel darah putih mempunyai fungsi :
·         Mengepung daerah yang terkena infeksi atau cedera
·         Menangkap organisme hidup dan menghancurkannya
·         Menyingkirkan bahan lain seperti kotoran-kotoran, serpihan kayu, benang jahitan (catgut), dll dengan cara yang sama.
Sebagai tambahan granulosit memiliki enzim yang dapat memecah protein, yang memungkinkan merusak jaringan tubuh, menghancurkan dan membuangnya. Dengan ini jaringan yang sakit atau terluka dapat dibuang dan dimungkinkan sembuh.
            Sebagai hasil kerja fagositik dari sel darah putih, peradangan dapat dihentikan sama sekali. Bila kegiatannya tidak dapat berhasil dengan sempurna, maka dapat terbentuk nanah. Nanah berisi “jenazah” dari kawan dan lawan. Fagosit yang terbunuh dalam perjuangannya melawan kuman yang menyerbu masuk disebut sel nanah.
Macam-macam sel darah putih. Dalam keadaan normal di dalam darah dapat ditemui 6 macam sel-sel darah putih yakni: netrofil polimorfonuklir, eosinofil polimorfonuklir, basofil polimorfonuklir, monosit, limfosit dan kadang-kadang sel-sel plasma, sebagai tambahan dapat juga kita jumpai banyak sekali platelet yang merupakan fragmen atau pecahan-pecahan dari macam ketujuh sel darah putih yang dapat di jumpai dalam sumsum tulang yakni megakariosit.
Mengenai fungsi limfosit sedikit yang diketahui. Mereka tidak memiliki gerakan amuboid, terapung-apung di dalam aliran darah dan juga terdapat dalam aliran darah dan juga terdapat dalam jaringan limfe dari semua bagian badan. Mereka tidak memakan bakteri, tetapi diduga bahwa mereka membentuk antibodi (badan penangkis) penting yang melindungi tubuh terhadap infeksi khorik dan mempertahankan tingkat kekebalannya (imunitas) tertentu terhadap infeksi.
Konsentrasi bermacam-macam sel-sel darah putih dalam darah. Pada manusia dewasa dapat di jumpai kira-kira 7.000 sel-sel darah putih per millimeter kubik darah. Jumlah persentase bermacam-macam sel-sel darah putih kira-kira sebagai berikut:
Netrofil Polimorfonuklir
62,0%
Eosinofil Polimorfonuklir
2,3%
Basofil Polimorfonuklir
0,4%
Monosit
5,3%
Limfosit
30,0%
Jumlah platelet yang hanya merupakan fragmen-fragmen sel dalam keadaan normal jumlahnya kira-kira 300.000 per millimeter kubik.
Leukositosis ialah istilah untuk menunjukkan penambahan jumlah keseluruhan sel darah putih dalam darah, yaitu apabila penambahan melampaui 10.000 butir per millimeter kubik.
Leukopenia berarti berkurangnya jumlah sel darah putih sampai 5.000 atau kurang.
Limfositosis yaitu pertambahan jumlah limfosit.
Pembetukan sel darah putih. Sel-sel darah putih dibentuk di dalam sumsum tulang, terutama granulosit akan disimpan di dalam sumsum sampai mereka diperlukan di dalam sistem sirkulasi. Kemudian bila kebutuhannya meningkat, maka bermacam-macam faktor yang akan meneyebabkan granulosit tersebut dilepaskan. Dalam keadaan normal granulosit yang bersikulasi di dalam seluruh aliran darah kira-kira tiga kali daripada jumlah granulosit yang disimpan dalam sumsum. Jumlah ini sesuai dengan persediaan granulosit selama 6 hari.
Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pembentukan sel-sel darah putih. Pada umumnya untuk pembentukan sel-sel darah putih itu juga sangat membutuhkan vitamin-vitamin dan asam-asam amino seperti halnya kebanyakan sel-sel yang lain dalam tubuh. Terutama bila sampai kekurangan asam folat, suatu senyawa vitamin B kompleks, yang menghambat pembentukan sel-sel darah merah. Juga pada gangguan metabolisme yang parah, maka produksi sel-sel darah putih mungkin akan sangat berkurang walaupun sebenarnya sel-sel ini lebih dibutuhkan daripada keadaan-keadaan yang biasa.

3.      Sel Pembeku Darah (Trombosit)
Trombosit merupakan benda-benda kecil yang mati yang bentuk dan ukurannya bermacam-macam, ada yang bulat ada juga yang berbentuk lonjong, memilik warna putih. Pada orang dewasa terdapat 200.000-300.000 trombosit per millimeter kubik.
Fungsinya memegang peranan penting dalam pembekuan darah. Jika banyaknya kurang dari normal, maka apabila terdapat luka dan darah tidak segera membeku sehingga timbul pendarahan yang terus menerus. Trombosit lebih dari 300.000 disebut trombositosis. Trombosit yang kurang dari 200.000 disebut trombositopenia. Di dalam plasma darah terdapat suatu zat yang turut membantu terjadinya peristiwa pembekuan darah, yaitu Ca2+ dan fibrinogen. Fibrinogen mulai bekerja apabila tubuh mendapat luka.

D. Pengertian dan Fungsi Sistem Peredaran Getah Bening
            Selain sistem peredaran darah, manusia juga mempunyai sistem peredaran getah bening (limfa) yang keduanya berperan dalam sistem transportasi. Sistem limfa berkaitan erat dengan sistem peredaran darah. Sistem limfa terdiri dari cairan limfa, pembuluh limfa, dan kelenjar limfa.
           
 Fungsi sistem peredaran getah bening adalah sebagai berikut :
1. Untuk sistem pertahanan tubuh
2. Mengangkut kembali cairan tubuh, cairan plasma darah, sel darah putih yang berada di luar pembuluh darah, dan mengangkut lemak dari usus ke dalam sistem peredaran darah.

Cairan limfa mengandung sel-sel darah putih yang berfungsi mematikan kuman penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Cairan ini keluar dari pembuluh darah dan mengisi ruang antarsel sehingga membasahi seluruh jaringan tubuh. Pembuluh limfa mempunyai banyak katup dan terdapat pada semua jaringan tubuh, kecuali pada sistem saraf pusat.
Pembuluh limfa dibedakan menjadi dua macam yaitu pembuluh limfa kanan dan pembuluh limfa kiri. Pembuluh limfa kanan berfungsi menampung cairan limfa yang berasal dari daerah kepala, leher bagian kanan, dada kanan, dan lengan kanan. Pembuluh ini bermuara pada vena yang berada di bawah selangka kanan. Pembuluh limfa kiri berfungsi menampung getah bening yang berasal dari daerah kepala, leher kiri, dada kiri, dan lengan kiri serta tubuh bagian bawah. Pembuluh ini bermuara pada vena di bawah selangka kiri.
Kelenjar limfa berfungsi untuk menghasilkan sel darah putih dan menjaga agar tidak terjadi infeksi lebih lanjut. Kelenjar limfa terdapat di sepanjang pembuluh limfa, terutama terdapat pada pangkal paha, ketiak, dan leher. Alat tubuh yang mempunyai fungsi yang sama dengan kelenjar limfa yaitu limpa dan tonsil. Limpa merupakan sebuah kelenjar yang terletak di belakang lambung dan berwarna ungu.
Fungsinya antara lain sebagai tempat penyimpanan cadangan sel darah, membunuh kuman penyakit, pembentukan sel darah putih dan antibodi, dan tempat pembongkaran sel darah merah yang sudah mati. Tonsil atau amandel terletak di bagian kanan dan kiri pangkal tenggorokan. Tonsil yang berada di belakang anak tekak yaitu di dalam rongga hidung disebut polip hidung. Fungsi tonsil adalah untuk mencegah infeksi yang masuk melalui hidung, mulut, dan tenggorokan.

E. Golongan Darah
            Golongan darah sangat penting untuk diketahui sehubungan dengan transfusi darah yaitu memasukan darah seseorang ke dalam tubuh orang lain melalui pembuluh darah vena. Transfusi ini bermanfaat dan diperlukan  tetapi jika pekerjaan ini dilakukan sembarangan sangat berbahaya karena bisa menimbulkan kematian bagi yang menerimanya.
            Apabila darah dari golongan yang bertentangan ditransfusikan akan mengakibatkan bahan dalam plasma yang bernama aglutinin menggumpal dan juga terjadi hemolisis (memecahnya) sel darah merah sehingga dapat membahayakan atau menimbulkan kematian. Di dalam serum darah manusia terdapat suatu zat  yang disebut zat aglutinin/zat penggumpal yang terdiri dari 2 macam yaitu aglutinin alfa dan aglutinin beta. Sedangkan di dalam eritrosit terdapat pula zat lain yang disebut aglutinogen A dan aglutinogen B.
            Berdasarkan faktor tersebut diatas makan Landsteiner membagi darah ke dalam empatt golongan yaitu:
1.      Golongan darah A, yang mempunyai aglutinogen A dalam eritrositnya dan mengandung aglutinin beta dalam serumnya.
2.      Golongan darah B yang mempunyai aglutinogen B dalam eritrositnya dan mengandung aglutinin alfa dalam serumnya.
3.      Golongan darah AB yaitu darah yang mempunyai aglutinogen A dan B dalam eritrositnya, dan tidak mengandung alfa dan beta dalam serumnya.
4.      Golongan darah O, yaitu darah yang tidak mengandung agluinogen (antigen) dan mengandung aglutinin alfa dan beta dalam serumnya.
Golongan darah O mempunyai aglutinin alfa dan beta, tetapi tidak mempunyai aglutinogen sehingga apabila diberikan pada darah yang golongan AB atau A-B tidak akan menimbulkan penggumpalan, sehingga orang yang mempunyai golongan darah O disebut general donor atau pemberi darah umum.


Skema golongan darah
Golongan darah
Aglutinogen eritrosit
Aglutinin serum
AB
A dan B
-
A
A
BETA
B
B
ALFA
O
-
ALFA BETA

  
DAFTAR PUSTAKA
C. Pearce, Evelyn. 1992. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Guyton, Arthur C. 1993. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 7 bagian 1. Jakarta: EGC.
Syaifuddin, Drs. H. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar